3 DESTINASI WISATA HALAL SUMATERA BARAT

3 DESTINASI WISATA HALAL SUMATERA BARAT Oleh: Widadi Handoyo ( Sekretaris Executive DPD PPHI Sumbar dan General Manager Hotel Rangkayo Basa ) Pasca berakhirnya pandemi Covid19 seakan jadi momentum kebangkitan dunia pariwisata Sumatera Barat. Sumatera Barat terus berbenah mengembangkan potensi wisata yang dimiliki. Ranah Minang terus menggali dan mengembangkan pariwisatanya, dengan diterbitkannya perda dan pergub tentang wisata halal, sumatera Barat terlihat sangat serius untuk mengembangkan wisata halal ini. Sumbar sebagai salah satu provinsi yang berhasil meraih 4 penghargaan pada Anugerah Desa Wisata Tahun 2021, terus melengkapi kemampuan dunia pariwisatanya dalam melayani para wisatawan, salah satu kelengkapan ini adalah memberikan fasilitas yang dibutuhkan oleh wisatawan muslim. Kelengkapan fasilitas buat wisatawan muslim inilah yang kita kenal sebagai Wisata Halal atau Muslim Friendly Tourism atau wisata ramah muslim. Yang lebih menguatkan adalah prestasi pada tahun 2016 Sumatera Barat berhasil meraih 3 best kategori dalam ajang World Halal Tourism Award. Dengan menyabet 3 kategori penghargaan yaitu, World’s Best Halal Destination, World’s Best Halal Tour Operator, dan World’s Best Halal Culinary Destination. Keberhasilan tersebut merupakan sebuah prestasi yang membanggakan tentunya, tapi Sumatera Barat tidak mau terbuai dengan keberhasilan tersebut. Sebuah payung hukum berupa Perda Nomor 1 Tahun 2020 dan Peraturan Gubernur No.19 tahun 2022 telah diterbitkan oleh Pemprov Sumbar, sebagai dasar dalam pengembangan Wisata Halal di Ranah Minang.  Pengembangan wisata halal akan terus berlanjut, dan saat ini adalah momentum yang tepat karena Pemerintah Pusat melalui Kemenparekraf/Baparekraf menjadikan wisata halal sebagai salah satu program utama. Dengan adanya dukungan penuh dari Kemenparekraf, Sumbar sangat siap menyambut wisatawan dari berbagai kalangan. Wisatawan Muslim tidak perlu lagi khawatir akan ketersediaan fasilitas ibadah dan kuliner halal di tempat wisata yang mereka kunjungi. Dari sekian banyak tempat wisata di Sumbar, sebagian besar telah menerapkan konsep wisata halal. Sebuah konsep yang selaras dengan prinsip “adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah” orang Minang. Mengutip ucapan Wakil Presiden K.H Ma’ruf Amin, konsep wisata halal ada pada layanan yang ditawarkan, bukan merubah objek atau tempat wisata tersebut. Halal tersebut berupa penyediaan kuliner atau makanan, ketersediaan tempat ibadah, hotel atau penginapan, serta fasilitas kesehatan yang semuanya telah memenuhi standar kehalalan.  Menurut kepala dinas pariwisata Sumatera Barat bpk Luhur Budianda, untuk persiapan tahun kunjungan pariwisata 2023 atau tahun Visit Beautiful West Sumatera, Sumatera Barat telah menetapkan 3 daerah tujuan wisata halal, yakni antara lain; Kesemua tempat tersebut sudah mengadopsi konsep Wisata Halal yang digaungkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.Sesuai panduan dari Kemenparekraf/Baparekraf, penyelenggaraan pariwisata halal merujuk pada layanan tambahan amenitas, atraksi, dan aksesibilitas untuk memenuhi pengalaman, kebutuhan, dan keinginan wisatawan muslim. Berdasarkan panduan tersebut, ringkasnya adalah tempat wisata harus bisa menyediakan fasilitas yang Islami kepada wisatawan muslim. Hal tersebut tentu saja tidak untuk merubah suatu tempat wisata khusus buat wisatawan muslim semata. Sebenarnya konsep wisata halal ini sudah lebih dulu dikembangkan di luar negeri, bahkan di negara-negara non-OkI (bukan negara peserta Organisasi Konferensi Islam). Dan konsep yang diterapkan pun mirip seperti panduan dari Kemenparekraf yaitu penyediaan fasilitas yang halal buat wisatawan muslim. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, sudah sepatutnya Indonesia turut andil menjadi pemain utama dalam industri pariwisata. Sementara itu, Sumatera Barat sebagai salah satu provinsi yang mengedepankan pariwisata, tentunya sudah sangat siap menyokong Program Wisata Halal. Ranah Minang semakin lengkap sebagai destinasi wisata dengan bermacam konsep wisatanya. Bagi para wisatawan yang akanmelakukan perjalanan atau jelajah wisata halal di Sumatera Barat, juga tidak perlu khawatir, karena di Sumatera Barat juga sudah ada penginapan atau hotel yang sudah berkonsep syariah atau Muslim Friendly hotel, yaitu Hotel Rangkayo Basa Groups. Rangkayo Basa ini merupakan pelopor hotel syariah di Sumatera Barat, saat ini selain di kota Padang, Hotel Rangkayo Basa juga sudah ada di kota Padang panjang.

Sumatera Barat Gercep Menangkap Penyelenggaraan WIES 2023 DI SUMBAR

DPD PPHI SUMBAR yang berkantot di Hotel Rangkayo Basa Padang, mengutip berita dari minangkabaunews Padang, 22 Maret 2023- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno resmi menetapkan Sumatera Barat sebagai tuan rumah World Islamic Entrepreneur Summit atau WIES pada 6-8 September 2023 mendatang. Sandiaga mengatakan penyelenggaraan WIES 2023 ini akan menjadi event Meeting Incentive Convention and Exhibiton (MICE) andalan Indonesia pada tahun ini. Hadirnya perhelatan internasional WIES 2023 di Sumatera Barat, akan membuat Sumbar semakin dikenal luas di kancah mancanegara, khususnya di komunitas Muslim seluruh dunia. “Saya ingin WIES ini makin luas dampaknya, Indonesia harus menjadi leader dalam pengembangan pariwisata Islam. Indonesia harus jadi episentrum entrepreneur muslim, yang mana itu ya di Sumbar,” jelas Sandiaga. Sumatera Barat kata Sandi, memiliki potensi pariwisata dan prioritas pembangunan di sektor pariwisata. Ia berharap gagasan ini menginisiasi lahirnya Global Muslimpreneur Forum, yang merupakan asosiasi forum wirausaha muslim pertama di dunia yang nantinya berpusat di Sumatera Barat. Sambutan hangat masyarakat Sumbar atas digelar WIES 2023 tersebut, disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy. Menurutnya penyelenggaraan pada WIES 2023 nanti, selain akan makin memperkenalkan Sumbar ke dunia, juga akan mendorong semakin berkembangnya milenial entrepreneur dan industri pariwisata halal dunia. “WIES 2023 ini pasti akan membawa dampak ganda bagi ekonomi dan pariwisata Sumbar. Apalagi WIES 2023 ini berbarengan dengan pencanangan tahun kunjungan wisata ke Sumbar, West Sumatera 2023,” ungkap Audy Joinaldy. Lebih lanjut, WIES 2023 menurut Audy akan semakin membuka peluang bertumbuhnya entrepreneur dan peluang investasi berusaha. Sumbar dapat dipastikan memperoleh multiplier effect dari penyelenggaraan event internasional ini. “Pariwisata tumbuh, ekonomi tumbuh, menumbuhkan pengusaha baru, perempuan milenial dan pengusaha muda baru. Jadi ekonomi positif dan kami sangat menyambut baik WIES 2023, karena memacu pertumbuhan dan momentum kebangkitan ekonomi Sumbar,” kata Audy melanjutkan. Untuk mendukung penuh WIES 2023, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Hansastri mengatakan Pemprov Sumbar telah mengalokasikan dana maksimal untuk mensukseskan perhelatan akbar entrepreneur muslim internasional tersebut. Menurutnya, selain bertepatan dengan West Sumatera 2023, WIES 2023 juga sangat cocok dengan karakter khas Sumatera Barat. “Acara ini sangat tepat dilakukan di Sumbar, islamiknya cocok, pariwisatanya potensial sekali, ada 70 event week dalam tahun kunjungan wisata ke Sumbar pada 2023 ini yang kita ciptakan, termasuk event skala internasional, salah satunya WIES 2023 ini,” jelas Sekda. Sementara itu, menurut Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat Luhur Budianda, WIES 2023 merupakan obat kerinduan bagi orang-orang Minang terhadap acara berskala internasional yang telah lama tidak digelar akibat pandemi COVID-19. Ia menambahkan bahwa dalam WIES 2023 nanti, pihaknya berencana memprioritaskan mempromosikan pariwisata Kota Bukittinggi dan Kabupaten Tanah Datar. “Jadi yang kita sasar adalah Bukittinggi karena sudah menjadi ikon kita di Sumatera Barat, kemudian Tanah Datar. Nanti akan kita bagi beberapa wilayah. Ada yang entrepreneurnya nanti di Bukittinggi, kemudian women entrepreneurnya di Tanah Datar, kemudian pusat acaranya di Kota Padang,” jelas Luhur. WIES 2023 merupakan sebuah forum tempat berkumpulnya para pelaku usaha muslim baik nasional maupun internasional. Setidaknya, akan ada delapan kepala negara yang hadir dalam acara tersebut. Mengenai alasan dipilihnya Sumatera Barat sebagai tuan rumah WIES 2023, Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran Kemenparekraf Masruroh mengatakan Sumbar sudah siap dengan berbagai potensi, mulai dari infrastruktur hingga transportasi yang memadai. “Dari sisi infrastruktur, akomodasi, kemudian transportasi, Sumbar sudah memadai sebagai destinasi MICE WIES 2023,” kata Masruroh. Pemprov. Sumatera Barat

PPHI DPD SUMATERA BARAT MEDORONG PERCEPATAN PERTUMBUHAN WISATA HALAL SUMATERA BARAT

PPHI DPD SUMATERA BARAT MEDORONG PERCEPATAN PERTUMBUHAN WISATA HALAL SUMATERA BARAT Padang, 22 Maret 2023 DPD PPHI Sumatera Barat yang berkantor sekretariat di Hotel Rangkayo Basa, Jl.Hang Tuah No.211 Padang melalui ketua DPD nya yaitu bapak H Havid Dt.Rangkayo Basa, turut buka suara terkait perkembangan wisata Halal di Sumatera Barat, daerah Sumatera Barat yang begitu kaya akan daya tarik wisata terutama alam dan budayanya, di tambah lagi adat istiadat yang menjunjung tinggi syariat islam dan juga mayoritas masyarakat yang beragama Islam, tentu ini menjadi modal yang sangat besar dan potensial untuk mengembangkan pariwisata halal. Untuk itu PPHI yang merupakan suatu organisasi yang bergerak di bidang pariwisata halal merasa mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk mendorong dan bekerja sama dengan pemerintah untuk percepatan pertumbuhan pariwisata halal di Sumatera Barat. Prestasi Sumatera Barat pada tahun 2016 yang pernah meraih 3 penghargaan tingkat dunia di ajang WHTA ( World Halal Tourism Award ) di Dubai Abu Dhabi, ketiga penghargaan tersebut adalah antara lain; Best Halal Destinasi, Best Halal Culinary dan Best Halal Tour Operator, ini semua merupakan modal yang sangat besar untuk percepatan pengembangan wisata halal di Sumatera Barat, di tambah lagi saat ini Sumatera Barat sudah punya PERDA dan PERGUB yang mengatur penyelenggaraan pariwisata halal ini.    Lebih jauh ketua DPD PPHI Sumatera Barat, H Havid menyampaikan, bahwa wisata halal ini juga merupakan kepatuhan bagi industri untuk menjalankan amanah UU N.33 tahun 2014 dan Peraturan Pemerintah No.39 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Jaminan Produk Halal. Melalui UU dan PP ini industri di wajibkan untuk mensertifikasi produknya agar bersertifikat halal. Sertifikasi halal yang di maksud adalah yang diselenggarakan oleh BPJPH kementerian agama yang bekerjasama dengan MUI. Dengan semakin banyaknya industi yang sudah tersertifikasi halal, tentu ini akan menambah kepercayaan bagi wisatawan muslim untuk berkunjung dan berwisata ke Sumatera Barat. Sekretariat DPD PPHI Sumbar.

BINCANG BISNIS SEKALIGUS PELANTIKAN PENGURUS PPHI DPD JAWA TENGAH

Menparekraf Sandiaga Uno: Konsep Wisata Halal Dorong Ekonomi Kreatif Suaramerdeka.com  Kamis, 16 Maret 2023 SEMARANG, suaramerdeka.com– Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong pemulihan sektor ekonomi dan pariwisata di Indonesia dengan mengenalkan konsep wisata halal. Pengembangan konsep wisata halal diyakini akan mendorong meningkatnya ekonomi kreatif di Tanah Air. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menuturkan, wisata halal merupakan peluang dan fokus pemerintah atas peningkatan sektor ekonomi kreatif dan bukan berarti mensyariahkan destinasi. Sandiaga menuturkan, wisata halal murni merupakan penambahan layanan yang mengusung tiga konsep. Yaitu Need to Have, seperti halal food services. Lalu Good to Have seperti toilet yang user friendly bagi muslim dan muslimah.Dan ketiga Nice to Have seperti fasilitas rekreasi yang muslim dan family friendly. ”Yang dimaksud need to have artinya menyajikan aneka kuliner halal. Restoran mana saja yang menyediakan makanan halal. Sehingga wisatawan merasa aman mengonsumsi makanan halal. Lalu good to have yaitu menyediakan akomodasi yang ramah bagi umat muslim, menyediakan perlengkapan salat, petunjuk salat di hotel dan tempat wisata. Kemudian, ada nice to have yaitu menyediakan fasilitas rekreasi yang aman bagi umat muslim,” paparnya saat Bincang Bisnis ”Peluang Industri Pariwisata Halal di Indonesia di Semarang, Kamis (16/3). Dikatakannya, jika konsep wisata halal ini dikembangakan, maka pemasukan sektor ekonomi kreatif di Indonesia akan lebih meningkat karena didukung dengan ramahnya layanan dan fasilitas yang berbasis halal. “Ini akan menjadi hal yang sangat positif terhadap peningkatkan berbagai peningkatan ekonomi kreatif,” terangnya. Sebelum bincang bisnis, dilakukan pelantikan Pengurus Perkumpulan Pariwisata Halal Jawa Tengah (PPHI Jateng). Pelantikan berlangsung di Miwiti Space, Kota Lama Semarang, pada Kamis, 16 Maret 2023. Para pengurus PPHI Jateng dilantik oleh Ketua Umum PPHI Riyanto Sofyan. Pelantikan pengurus ditandai dengan pengucapan sumpah bersama. Pengurus PPHI Jateng yang dilantik di antaranya Kukrit SW (Ketua Umum), Hasan Abdul Rozaq (Sekretaris Umum), Suharnomo, Heru Isnawan, Nyata Nugraha, Ilham Sholeh, Joni Iszunaji (Wakil Ketua Umum), dan Sugiharti Bendahara Umum. Staf Ahli Wali Kota Semarang Nurjanah mengucapkan selamat atas pelantikan  pengurus PPHI Jateng. Ia berharap PPHI Jateng mampu mengampanyekan destinasi wisata halal di Kota Semarang. “Saat ini kami sudah menjalankan konsep pariwisata halal, salah satunya Pasar Jajan Semarangan di depan Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman),” tuturnya mewakili Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu. Pelantikan dilanjutkan dengan bincang bisnis. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menghadiri kegiatan bincang bisnis PPHI Jateng yang dimoderatori Kukrit SW. Kegiatan bincang bisnis PPHI Jateng ini berlangsung Kamis 16 Maret 2023 di Miwiti Space Jalan Letjen Suprapto No. 3 Kota Lama Semarang. Dengan bincang bisnis ini diharapkan bisa mendorong pariwisata Jateng khususnya dari sisi infrastruktur halal yang akan terus diakselerasi.***

PPHI SEMAKIN BERPERAN DALAM PERKEMBANGAN PARIWISATA HALAL

Oleh, Widadi Handoyo ( Sekretaris Executive DPD PPHI SUMBAR dan General Manager Hotel Rangkayo Basa Groups ) Selasa, 14 Maret 2023 Kali ini PPHI diwakili lansung oleh ketua DPP PPHI yang juga CEO Hotel Sofyan Jakarta, yaitu bapak Riyanto Sofyan mendeklarasikan kerjasama di beberapa bidang dengan FEBI UIN SMH Banten dan AFEBIS PTKIN Se-Indonesia, sekaligus diadakan International Conference Islamic Economic & Business dan Rakernas Asosiasi Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam (AFEBIS) 2022-2024 Kerjasama yang dimaksud termasuk Joint Research dalam kegiatan penelitian, kerjasama dalam kegiatan Seminar/Workshop/Training serta kerjasama dalam menyiapkan dan mengembangkan sumber daya insani dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan Pariwisata Ramah Muslim seperti Rating Muslim Friendly Tourism. Acara Conference dan kerjasama di lakukan pada hari selasa, 14 Maret 2023 di Auditorium UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, diharapkan semoga dengan kerjasama ini wisata halal semakin menjadi kebutuhan dan gaya hidup bagi seluruh masyarakat Indonesia.

KIPRAH PPHI DPD SUMATERA BARAT DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA HALAL DI SUMATERA BARAT

Oleh: Widadi Handoyo ( Sekretaris Executive DPD PPHI Sumatera Barat dan General Manager di Hotel Rangkayo Basa Group ) PPHI atau Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia DPD Sumatera Barat adalah merupakan asosiasi pariwisata yang punya kantor sekretariat di Hotel Rangkayo Basa No. 211 Padang. PPHI DPD Sumatera Barat adalah organisasi yang aktif mendukung terjadinya percepatan pariwisata di Sumatera Barat, lebih khusus di bidang pariwisata halal atau muslim friendly tourism. Beberapa kesempatan PPHI selalu aktif terlibat dan dilibatkan dalam program FGD atau sosialisasi yang berkaitan dengan pariwisata halal di Sumatera Barat termasuk dalam percepatan terbentuknya peraturan daerah dan peraturan gubernur Bumatera Barat. Terselenggaranya pariwisata halal di Sumatera Barat, sejak pertama kali wisata halal di perkenalkan oleh kementerian pariwisata di Sumatera Barat tahun 2014, PPHI sudah aktif terlibat FGD dan sosialisasi pariwisata halal di Sumatera Barat, dan pada tahun 2018 terbentuklah DPD PPHI Sumatera Barat dan sebagai ketua DPD terpilih saat itu adalah bapak H.Havid Dt.Rangkayo Basa, SE. Yang beranggotakan sekitar 40 anggota, yang terdiri dari para pemilik industri dan para praktisi bidang pariwisata. PERAN DPD PPHI Sumatera Barat:

Apa saja Kriteria Hotel Syariah?

Kriteria Hotel Syariah Berdasarkan PERMENPAREKRAF No . 2 Tahun 2014 Oleh : Widadi Handoyo ( Sekretaris Executive DPD PPHI Sumatera Barat dan General Manager di Hotel Rangkayo Basa Group ) Pariwisata halal atau saat ini istilahnya diperhalus dengan wisata ramah muslim belakangan sudah menjadi pembicaraan hangat hampir diseluruh kalangan, terutama yang bergerak pada bidang pariwisata. Saat ini bahkan sudah banyak kampus yang membuka porgram studi pariwisata halal. Berbicara tentang Pariwisata Halal tentu tidak bisa terlepas dengan ketersediaan penginapan syariah atau penginapan halal. Bagi masyarakat yang tertarik untuk mendirikan hotel atau penginapan syariah, beriku akan kita bahas sedikit gabmbaran tentang kriteria hotel syariah berdasarkan PERMENPAREKRAF NO 2 tahun 2014. Meskipun peraturan ini telah dicabut, namun belum ada pengganti peraturan yang berkaitan dengan hotel syariah. Peraturan ini masih sangat relevan sebagai acuan untuk mendirikan hotel syariah. Peraturan ini juga yang diadopsi dan menjadi acuan Pemerintah Sumatera Barat dalam menerbitkan Peraturan Gubernur No 19 tahun 2022 tentang pelaksanaan pariwisata halal. Kriteria Hotel Syariah terdiri dari dua jenis kriteria, yaitu ; Selanjutnya akan kita bahas secara rinci dari dua kriteria tersebut. KRITERIA HOTEL SYARIAH HILAL 1 Aspek Produk A. Toilet Umum (Public Rest Room) B. Kamar Tidur Tamu C. Kamar Mandi Tamu D. Dapur E. Ruang Karyawan F. Ruang Ibadah G. Kolam Renang H. Spa Aspek Pelayanan A. Manajemen Usaha B. Sumber Daya Manusia KRITERIA HOTEL SYARIAH HILAL 2 ASPEK PRODUK A. Lobby B. Front Office C. Toilet Umum ( Public Rest Room) D. Kamar Tidur Tamu E. Kamar Mandi Tamu F. Dapur G. Ruang Karyawan H. Kolam Renang I. Spa ASPEK PELAYANAN A. Kantor Depan B. Tata Graha C. Makan dan Minum D. Public Bar E. Olahraga, Rekreasi dan Kebugaran F. Kolam Renang G. Spa (Apabila Ada) H. Konsultasi I. Fasilitas Hiburan ASPEK PENGELOLAAN A. Organisasi B. Manajemen Usaha C. Sumber Daya Manusia

PROFILE HOTEL SYARIAH TERKEMUKA DI PADANG

HOTEL SYARIAH TERKEMUKA DI PADANG, Hotel yang berkonsep Muslim Friendly Hotel atau berkonsep Halal Hotel. Hotel Rangkayo Basa sebagai hotel yang berkonsep hotel halal atau muslim friendly berada di pusat kota Padang. Beralamat di Jl.Hangtuah No 211 Padang, hadir dengan konsep Syariah Islam, Grand Openingpada tanggal 27 April 2013 sekaligus diresmikan oleh wali kota Padang yang menjabat saat itu. Bangunan hotel terdiri dari empat lantai dengan jumlah kamar pada awalnya sebanyak 29 kamar. Karena banyaknya permintaan pasar, maka mulai April 2014 jumlah kamar menjadi 52 kamar, pada tahun 2018 menambah satu kamar lagi, jadi total keseluruhan menjadi 53 Kamar. Hotel ini memiliki tiga macam kelas atau tipe dan pada bulan Nopember 2014 hotel sudah dilengkapi dengan fasilitas Lift. Fasilitas dan pelayanan hotel antara lain: Musholla, 24 pelayanan Room Service, Coffee Shop,  Meeting & Functional Room, Weeding Package, Kursus Table Manner, wi-fi diseluruh area hotel, TV cabel, Laundry & dry Clean, Air Port Sevice dan area Parkir yang cukup memadai. Sejarah Nama Hotel Rangkayo Basa Generasi Pertama Dt. Rangkayo Basa Nama Datuk Rangkayo Basa mempunyai arti sejarah yang cukup luas. Gelar Datuk Rangkayo Basa hadir pertama kali pada abat ke 19 di Guguk Tinggi, disandang oleh bapak Muhammad Shaleh Dt. Rangkayo Basa . Pada masa itu beliau dikena sebagai pedagang yang cukup berjaya . Tidak saja bagaimana cara menguasai pasar tetapi juga dikenal sebagai pedagang yang sangat memperhatikan nilai nilai islam, beliau lahir pada tanggal 13 Rabiul Awal 1257H. Muhammad Shaleh Dt Rangkayo Basa layak menjadi inspiratif, beliau sosok saudagar Minangkabau abad ke XIX yang sukses. Kesuksesan beliau tidak diperoleh dengan mudah, tetapi diperoleh dengan kerja keras. Beliau tidak saja hebat berdagang, namun juga dikenal pintar dan sangat taat beragama, perpaduan kedua hal tersebut yang menjadikan beliau sebagai saudagar besar pada masa itu. Generasi Kedua Dt. Rangkayo Basa Periode kedua gelar Datuk Rangkayo Basa disandang oleh Brigjen Polisi Kaharoedin Datuk Rangkayo Basa. Beliau merupakan tamatan sekolah; Opleidings School Voor Inlandsche Ambteneren ( OSVIA ) atau sekolah ( Pangreh-Praja ) di Fort De Kock ( Bukit Tinggi ) . Beliau memiliki istri bernama Mariah yang dinikahinya pada tahun 1926 merupakan tamatan Holandsch Inlandsche School ( HIS ) di Sigli DI Aceh, atau setingkat SD jaman sekarang. Dalam perjalanan kariernya Brigjen Polisi Kaharoedin Dt.Rangkayo Basa pernah menduduki jabatan mulai dari Asisten Demang, Asisten Wedana Polisi, Kepala Poilsi Padang Luar Kota, kepala Polisi Karesidenan Riau, kepala Polisi Kota Padang, Kepala Polisi Provinsi Sumatera Tengah dan puncak kariernya, beliau sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Barat yang Pertama pada tahun 1958 sampai dengan 1965. Pada masa kariernya menjadi Gubernur Sumatera Barat, beliau mengalami tekanan yang sangat berat atas munculnya PRRI, satu sisi sebagai wakil perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah, disisi lain sebagai pemimpin pada kawasan wilayah yang masyarakatnya sedang bergejolak atas ketidak puasan kepada pemerintah pusat. Untuk mengenang perjuangan dan jasa Brigjen Polisi Dt Kaharoedin Rangkayo basa, maka Polda Sumatera Barat membangun monumen yang berupa sebuah gedung pertemuan yang diberi nama “ Gedung Kaharoedin Datuk Rangkayo Basa” yang beralamat di Jl.S.Parman Kota Padang. Generasi Ketiga Dt. Rangkayo Basa Selanjutnya H Havid Dt. Rangkayo Basa ( pemilik Hotel Rangkayo Basa ) merupakan generasi ketiga setelah Muhammad Shaleh Dt.Rangkayo Basa dan Brigjen Polisi Kaharoedin Dt.Rangkayo Basa. Beliau lahir di Bukit Tinggi pada tanggal 16 Oktober 1967, sebagai orang yang mempunyai latar pendidikan yang cukup tinggi, yaitu Sarjana Ekonomi, beliau tidak tertarik pada dunia kerja kantoran, beliau lebih senang menjadi pedagang dan pengusaha, dengan memulai kariernya sebagai pedagang emas sejak tahun 1993 . Sampai saat ini usahanya terus berkembang dan sudah mempunyai beberapa cabang toko emas di kota Padang Sumatera Barat dan juga daerah lain. Keinginan beliau untuk mendirikan Hotel Syariah terwujud berkat kerja sama dengan    Sofyan Hospitality Internasional ( SHI ) yang bermarkas di Jakarta. Dari sejarah dan profil dari tokoh Datuk Rangkayo Basa yang sangat menginspirasi dan sebagai Ninik Mamak dan mengenang ketokohan Datuk Rangkayo Basa, maka Hotel ini diberi nama HOTEL RANGKAYO BASA. Konsep Syariah Hotel Rangkayo Basa Padang Hadirnya Hotel Rangkayo Basa  yang dikelola secara syariah ini diharapkan dapat menjadi syi’ar tentang kesan hotel menjadi lebih baik. Selama ini  hotel di kota Padang dan Sumatera Barat pada umumnya di nilai negatif. Hotel Rangkayo Basa diharapkan juga dapat membantu membuka lapangan kerja baru serta memenuhi kebutuhan dan permintaan kamar di kota Padang. Selain itu, Hotel muslim friendly ini juga diharapkan mengakomondasi semakin besarnya potensi wisata dikota Padang yang membutuhkan tempat menginap yang nyaman, tenang, aman dan yang pasti dijamin kehalalan dari segi menu makanannya. Manajemen Hotel Rangkayo Basa awalnya bekerja sama dengan Sofyan Hospitality Internasional ( SHI ) di Jakarta. Setelah selama lima tahun dikelola oleh manajemen Sofyaninn, maka hotel berbasis syari’ah ini sejak Juni 2018 sudah mulai dikelola sendiri, . Hotel Rangkayo Basa tetap bisa berkembang dan bersaing dengan hotel- hotel lain di kota padang dan tetap menjadi pilihan oleh para pelanggan yang selama ini sudah setia menjadi pelanggan Hotel Rangkayo Basa. Saat ini manajemen Rangkayo Basa sudah mulai mengembangkan sayapnya dengan membeli sebuah hotel yang sudah beroperasi di kota Padang Panjang,  yaitu Hotel Flaminggo dengan 44 kamar, tepatnya di Jl Sutan syahril No.411 Padang Panjang . Alhamdulillah pada Januari tahun 2020 nama Flaminggo sudah resmi di ganti dengan Hotel Rangkayo Basa Padang-Panjang. Selain itu manajemen Rangkayo Basa juga menambah properti baru, yaitu  sebuah Guest House di daerah Andalas  Padang Timur dan sudah mulai beroperasi pada Desember 2020. Sehingga total kamar yang dikelola oleh manajemen Group Rangkayo Basa saat ini berjumlah 115 kamar. Baca Juga : Sejarah Perkembangan Wisata Halal di Sumatera Barat

PERS RELEASE

Menanggapi dan Menyikapi  komentar negative tentang “wisata halal” dari tokoh masyarakat di Sumatera Barat. Padang, Agustus 2019 Oleh  Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia ( PPHI ) DPD Sumbar Ketua         : H Havid Dt.Rangkayo Basa. SE. Sekretaris : H. Meldian STP,MM Bismillahirahmanirrahiim Assalamu’alaikum wr.wb.     Dalam beberapa hari ini setidaknya ada dua media  yang memuat komentar dari para tokoh masyarakat Sumbar  yang berkomentar miring dan cenderung melemahkan semangat tentang wisata halal yang sedang dan terus kita kembangkan di Sumatera Barat ini, yaitu pada hari senin 29 Juli 2019 oleh media Benteng Sumbar dan yang ke-dua pada hari minggu 04 Agustus 2019 oleh Antara Sumbar. Dari komentar dan berita tersebut sedikit banyak akan membawa polemic dan keresahan  serta melemahkan semangat bagi masyarakat, khususnya yang bergerak dibidang pariwisata. Maka dari itu kami DPD PPHI Sumatera Barat, sebuah organisasi yang bergerak dan berkecimpung dalam wisata halal,  merasa tergelitik dan tergerak untuk meluruskan sekaligus memperkenalkan wisata halal    ( bagi yang belum kenal )  apa esensi wisata halal yang dimaksud. Jadi tidak ada yang Ilegal tentang penyelenggaraan Pariwisata Halal ( Misalnya: Dinas Pariwisata, LPPOM MUI, PHRI, ASITA, PPHI ) Demikian Pers Realese ini kami buat, Padang Agustus 2019 Wassalamu’alaikum wr.wb Atas nama pengurus DPD PPHI Sumatera Barat H Havid Dt.Rangkayo Basa SE

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PARIWISATA HALAL DI SUMATERA BARAT

Widadi Handoyo Sekretaris Excecutive PPHI DPD Sumbar

Sejarah Pariwisata Halal Sumatera Barat | Wisata Halal Sumbar. Oleh: Widadi Handoyo ( Sekretaris Executive DPD PPHI Sumatera Barat dan General Manager di Hotel Rangkayo Basa Group ) Wisata halal adalah sebagai implementasi dari UU No 33 tahun 2014 tentang jaminan produk halal, yaitu mencakup barang dan/atau jasa yang terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetic, serta barang gunaan yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat. Lebih jauh lagi, wisata halal merupakan Extended Service dan Fasilities atau pelayanan tambahan yang diperuntukan bagi wisatawan muslim yang selama ini belum terfasilitasi, baik untuk sholat, fasilitas umum yang mudah dan nyaman, restoran halal, penginapan yng muslim friendly dll. Di dalam masyarakat minangkabau wisata halal sangat bekesuaian, wisata halal adalah merupakan bagian dari Syariah, dan Syariah sendiri telah menjadi falsafah kehidupan orang Minangkabau, yang dijabarkan pada ABS-SBK-SMAM-ABSB ( Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah – Syara’ Mangato Adat Mamakai – Adat Bapaneh Syara’ Balinduang ) KONSEP PENGEMBANGAN PARIWISATA HALAL Wisata halal ini merupakan layanan tambahan bagi wisata muslim yang akan melakukan perjalanan wisata, dan layanan tersebut harus yang mudah dan nyaman untuk kebutuhan harian bagi wisatawan muslim,mulai dari bandara, selama perjalanan, daerah tujuan wisata, penginapan, tempat belanja, antara lain: Dari kesembilan kreteria di atas, suatu destinasi bisa di katakan destinasi halal minimal memenuhi 3 unsur teratas. SEJARAH PARIWISATA HALAL SUMATERA BARAT Cerita sejarah pariwisata halal di Sumatera Barat di mulai pada tahun 2014, mulai diadakan FGD ( Forum Groups Discussion ) di Sumatera Barat dan selanjutnya di susul dengan sosialisasi yang berkelanjutan. Wisata halal di sumatera barat mulai booming atau semacam mendapatkan boster, yaitu pada tahun 2016 Sumatera Barat mendapatkan 3 penghargaan, yaitu sebagai; Selanjutnya pada tahun 2020 terbit PERDA PARIWISATA HALAL NO.1 TAHUN 2020, dan disusul pada 2022  terbit Peraturan Gubernur No.19 tahun 2022 Berkaitan Dengan Pelaksanaan Perda No.01/2020 tentang penyelenggaraan pariwisata halal. Perkembangan atau pengaruh di luncurkannya program pariwisata halal di Sumatera Barat, antara lain; SEJARAH PARIWISATA HALAL INDONESIA Bicara wisata halal di Sumatera Barat tidak lengkap apabila tidak di lengkapi dengan sejarah wisata halal secara umum di Indonesia. Pada 2015 Indonesia pertama kali mengikuti World Halal Tourism Award (WHTA) dan Global Tourims Index (GMTI) . Indonesia saat itu mendapatkan 2 penghargaan Lombok NTB ( Best Halal Destination ) dan  Best Hotel Muslim Friendly yang diraih oleh Sofyan Hotel Jakarta. Selanjutnya pada 2016 Indonesia memborong 12 penghargaan pada ajang yang sama. Tiga kategori di antaranya di raih oleh Sumatera Barat, secara rinci berikut 12 kategori yang di maksud: Penghargaan Pariwisata Halal Indonesia Lainnya Pada tahun 2017 lagi lagi Pariwisata Halal Indonesia menduduki TOP 3 dari ajang GMTI. Indonesia menetapkan  10 daerah tujuan wisata halal Indonesia, yaitu; Jakarta, Riau, Lombok, Sumatera Barat, Aceh, Jawa Tengah,Yogya Malang, Makasar. Dari 10 tersebut ada 5 daerah tujuan wisata halal unggulan, yaitu: Aceh, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Riau ( kepri ) Lombok NTB. Tahun 2019 merupakan puncak prestasi yang di raih oleh Pariwisata Halal Indonesia yaitu  menduduki peringkat ke-1  bersama Malaysia dengan nilai yang sama pada Global Muslim Travel Index. Pada 2019 Indonesia juga meluncurkan IMTI (Indonesia Muslim Travel Index ) pada tahun 2020 terjadi pandemi COVID-19 sehingga acara GMTI ditiadakan. Pada tahun 2021 prestasi pariwisata indonesia turun peringkat di urutan ke-4, urutan pertama tetap Malaysia. Kendala Pariwisata Halal Setiap usaha atau program sudah dipastikan selalu ada kendala, begitu juga pariwisata halal ini. Kendala-kendala yang timbul antara lain: Dengan pengalihan wewenang  penerbitan sertifikat halal dari MUI ke Kementerian Agama. Biaya lebih tinggi, secara proses juga lebih sulit karena belum ada kesiapan di Lembaga Penjamin Halal ( LPH ) di setiap daerah, hal ini sedikit banyak menjadi kendala bagi para pelaku industri. Kemudian kendala lain, belum semua masyarakat sadar pentingnya sertifikat halal, karena beranggapan di sumatera Barat yang mayoritas muslim, sudah beranggapan semuamakan halal, padahal makanan olahan melalui proses yang belum tentu halal proses dan zat tambahannya. Selanjutnya kebanyakan wisatawan masalah halal belum menjadi pertimbangan sebagai pilihan, berbeda jika berkunjung ke daerah yang mayoritas NON muslim, masalah serttifikat halal pasti sangat di cari. Maka dari itu wisata halal di daerah yang mayoritas muslim agak susah berkembang. Baca Juga : PERS RELEASE PARIWISATA HALAL SUMATERA BARAT