Lokakarya Penyusunan Kurikulum, PPHI Suarakan Penguatan Literasi Kepariwisataan Syariah dan Teknologi

Padang, 21 Agustus 2025 — Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) DPD Sumatera Barat turut ambil bagian dalam Lokakarya Penyusunan Kurikulum Program Studi Pariwisata Syariah yang digelar oleh STAI Ar Risalah Sumatera Barat. Kegiatan bertema “Membentuk Kurikulum Pariwisata Syariah yang Adaptif terhadap Revolusi Industri dan Tren Global Halal” ini berlangsung pada Kamis, 21 Agustus 2025, di Aula STAI Ar Risalah. Dalam kegiatan tersebut, Bapak Mazri Tanjung, selaku Sekretaris Eksekutif PPHI DPD Sumatera Barat, hadir sebagai narasumber dengan topik “Penguatan Literasi (Kepariwisataan, Syariah, dan Teknologi) dalam Pengembangan Kurikulum Program Sarjana Pariwisata Syariah.” Melalui pemaparan ini, PPHI menekankan pentingnya keterhubungan antara kurikulum akademik dengan kebutuhan industri pariwisata halal yang terus berkembang. Mazri Tanjung menjelaskan bahwa literasi kepariwisataan, syariah, dan teknologi merupakan tiga pilar utama yang harus dimiliki oleh lulusan Pariwisata Syariah. “Mahasiswa perlu dibekali kompetensi adaptif agar siap menghadapi tantangan era digital sekaligus mampu mendukung Sumatera Barat sebagai destinasi wisata halal unggulan,” ungkapnya. Selain dari PPHI, lokakarya ini juga menghadirkan narasumber lain, yaitu Prof. Dr. Darmansyah, ST., M.Pd (Universitas Negeri Padang) dengan topik Kurikulum OBE dan Implikasinya, serta Dr. Arizwan, S.Ag., M.Pd (Kabid SMK Dinas Pendidikan Sumbar) dengan topik Sinergi Kurikulum dan Implementasi Agenda Pariwisata Nasional. Kehadiran PPHI dalam forum ini menunjukkan komitmen organisasi untuk berkontribusi dalam penguatan dunia pendidikan, khususnya dalam penyusunan kurikulum yang relevan, visioner, dan aplikatif. Sinergi antara PPHI dan lembaga pendidikan diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga siap menjadi motor penggerak pariwisata halal di Sumatera Barat dan Indonesia.
Wakil Gubernur Sumatera Barat Sambut Hangat TIM IMTI 2025

Padang, 18 September 2025 — Rangkaian kegiatan visitasi Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025 di Sumatera Barat resmi ditutup dengan agenda ramah tamah bersama pimpinan daerah. Acara ini dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, yang menyambut hangat tim visitasi di Istana Gubernur Sumatera Barat. Kunjungan IMTI 2025 ke Sumatera Barat merupakan bagian dari upaya penguatan posisi daerah ini sebagai destinasi wisata ramah Muslim unggulan di Indonesia. Tim yang hadir terdiri dari perwakilan Enhaii Halal Tourism Center, Poltekpar NHI Bandung, CrescentRating, Bank Indonesia, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada tim IMTI 2025 atas dukungan serta rekomendasi yang diberikan bagi kemajuan pariwisata Sumatera Barat. Beliau menekankan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dalam memperkuat ekosistem pariwisata halal yang berdaya saing global, sekaligus tetap mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal Minangkabau. “Sumatera Barat memiliki potensi luar biasa dalam pengembangan wisata ramah Muslim, baik dari segi budaya, kuliner, maupun atraksi alam. Kehadiran tim IMTI menjadi energi baru untuk memperkuat langkah-langkah strategis pemerintah daerah bersama stakeholder pariwisata,” ujar Wakil Gubernur. Rangkaian visitasi tim IMTI ini diharapkan hasilnya dapat mendongkrak peringkat Sumatera Barat dalam IMTI, yang pada periode sebelumnya menempati peringkat ketiga nasional. Harapannya, dengan perbaikan layanan, penguatan regulasi, dan peningkatan sinergi, Sumatera Barat dapat naik ke posisi yang lebih tinggi sekaligus memperkuat branding sebagai destinasi pariwisata halal kelas dunia. Suasana ramah tamah berlangsung penuh keakraban, menjadi momentum untuk mempererat hubungan kerja sama sekaligus meneguhkan komitmen Sumatera Barat dalam mendukung visi besar pengembangan pariwisata ramah Muslim nasional.
PPHI DPD SUMBAR Coffee Morning Bersama Dinas Pariwisata dan KADIN Sumatera Barat

Padang, 21 Agustus 2025 — Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Sumatera Barat, menghadiri kegiatan Coffee Morning yang diprakarsai oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat bersama Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan ini mengangkat tema Silaturahmi Penthelix dan Pembuatan Paket Bersama, sebagai langkah strategis dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor pariwisata di Sumatera Barat. Acara diselenggarakan pada Kamis, 21 Agustus 2025 bertempat di Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini dihadiri oleh unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, serta organisasi kepariwisataan di Sumatera Barat. Melalui forum silaturahmi ini, seluruh pemangku kepentingan pariwisata berkomitmen untuk memperkuat koordinasi, membangun komunikasi yang berkesinambungan, serta merancang paket wisata terpadu yang mampu meningkatkan daya tarik pariwisata daerah. Kehadiran PPHI DPD Sumatera Barat dalam acara ini merupakan wujud nyata dukungan terhadap pengembangan pariwisata ramah Muslim di Ranah Minang. PPHI berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, sehingga pariwisata Sumatera Barat dapat tumbuh secara inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Hadiri Rapat Koordinasi, PPHI DPD SUMBAR siap Perkuat Kolaborasi Antar Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Pariwisata Ramah Muslim

PPHI DPD Sumatera Barat Hadiri Rapat Koordinasi Penguatan Kolaborasi Antar Pemangku Pengembangan Pariwisata Ramah Muslim Padang, 28 Juli 2025 — Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Sumatera Barat memenuhi undangan Rapat Koordinasi Program Pariwisata Ramah Muslim yang diselenggarakan oleh Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Sumatera Barat. Acara ini berlangsung di Kantor KDEKS Sumatera Barat, yang berlokasi di Kota Padang. Dengan agenda utama Penguatan Kepentingan Kolaborasi dalam Pariwisata Ramah Muslim Antar Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Pariwisata Ramah Muslim, rapat ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari sektor pemerintahan, asosiasi pariwisata, akademisi, pelaku usaha, serta komunitas keagamaan. Pertemuan ini menjadi forum strategis untuk menyatukan langkah dalam membangun ekosistem pariwisata yang ramah Muslim dan berkelanjutan di Sumatera Barat. Rapat koordinasi ini juga menjadi ajang untuk menyusun rencana aksi bersama dan memperkuat jejaring kerja antar sektor. KDEKS Sumatera Barat sebagai penyelenggara turut mendorong agar seluruh pihak mampu menjaga semangat kolaboratif dan menjadikan program ini sebagai bagian dari penguatan ekonomi syariah daerah. Dengan keterlibatan aktif PPHI dan dukungan lintas sektor, diharapkan pengembangan pariwisata ramah Muslim di Sumatera Barat dapat tumbuh secara terarah, inklusif, dan memberikan manfaat ekonomi serta sosial bagi masyarakat luas. Baca Juga PPHI Hadiri Workshop IMTI 2025 di Yogyakarta
Hadiri Workshop Nasional IMTI 2025 PPHI DPD Sumatera Barat Goes To Yogya

Yogyakarta, 25 Juli 2025 — Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) DPD Sumatera Barat diwakili oleh Bapak Mazri Tanjung menghadiri Workshop Pelaksanaan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025 yang mengangkat tema “Pengumpulan Data dan Evidence Perkembangan Pariwisata Ramah Muslim (PRM) Daerah.” Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 25 Juli 2025 di Hyatt Regency Yogyakarta ini merupakan kolaborasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan daerah dari seluruh Indonesia. Workshop dibuka secara resmi oleh Bapak Rifki Ismal, Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia, dan Ibu Masruroh, Staf Ahli Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kemenparekraf RI. Setelah sesi pembukaan dan foto bersama, peserta mendapatkan paparan tentang Pedoman Layanan Dasar PRM serta Program Pengembangan PRM yang dikoordinasikan oleh Bank Indonesia. Agenda dilanjutkan dengan dua sesi workshop teknis yang dipandu oleh tim dari EHTC dan CrescentRating (CR). Sesi pertama membahas Muslim Travel Market dan Domestic ACES Model, sementara sesi kedua berfokus pada praktik penyusunan borang serta metode pengumpulan data pendukung IMTI di tingkat daerah. PPHI DPD Sumatera Barat, melalui keikutsertaannya, menegaskan komitmen organisasi dalam mendorong pengembangan destinasi pariwisata ramah Muslim yang berbasis data dan sesuai dengan karakteristik budaya lokal. Dalam sesi diskusi, delegasi PPHI juga turut berdialog dengan perwakilan kementerian dan lembaga pusat mengenai strategi percepatan, tantangan, dan potensi penguatan PRM di daerah. Kegiatan resmi ditutup pada pukul 16.45 WIB oleh pihak Bank Indonesia. Sementara itu, seluruh peserta dijadwalkan melakukan check-out pada Sabtu, 26 Juli 2025. Melalui kegiatan ini, PPHI DPD Sumatera Barat berharap akan terbentuk sinergi yang lebih erat antara pusat dan daerah dalam merumuskan kebijakan pengembangan pariwisata ramah Muslim yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
PPHI Hadiri Forum Penyusunan RENSTRA 2025–2029 Dinas Pariwisata Sumbar

Padang, Juli 2025 — Dalam upaya turut serta membangun arah strategis kepariwisataan Sumatera Barat, Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) hadir dan berpartisipasi dalam Forum OPD Penyusunan Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat Tahun 2025–2029. Forum ini berlangsung di Aula 1 Kantor Dinas Pariwisata Sumbar, dan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintahan dan non-pemerintahan. Forum ini menjadi ajang penting dalam menghimpun aspirasi dan masukan dari berbagai pihak, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Sumbar, asosiasi pariwisata, instansi vertikal/BUMN, perguruan tinggi, hingga media lokal. Kehadiran PPHI menandai komitmen organisasi tersebut dalam memperkuat posisi Sumatera Barat sebagai destinasi unggulan pariwisata halal di Indonesia. Dalam kesempatan ini, PPHI turut memberikan pandangan strategis mengenai pentingnya integrasi nilai-nilai halal dalam pengembangan destinasi, layanan, dan promosi pariwisata. Sumatera Barat sebagai daerah yang kental dengan budaya Minangkabau dan identitas keislaman dinilai memiliki keunggulan kompetitif untuk terus mendorong pariwisata ramah Muslim yang berkelas global. Partisipasi PPHI menjadi sinyal penting bahwa pengembangan pariwisata ke depan harus dilakukan secara kolaboratif dan inklusif, melibatkan berbagai perspektif agar mampu menghasilkan kebijakan yang menyentuh akar persoalan dan menggali potensi secara maksimal. Melalui forum ini, diharapkan Dinas Pariwisata Sumbar dapat merumuskan RENSTRA 2025–2029 yang berpijak pada kekuatan lokal, namun juga berorientasi pada pasar global — termasuk dalam memperkuat posisi Sumbar sebagai destinasi halal yang unggul, berkualitas, dan berkelanjutan.
PPHI DPD Sumatera Barat Hadiri ajang bergengsi Ranah Minang Halal Lifestyle Festival (RMHLF) 2025

Padang, 5 Mei 2025 — Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Sumatera Barat turut hadir dalam ajang bergengsi Ranah Minang Halal Lifestyle Festival (RMHLF) 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Baiturrahmah (Unbrah) Padang, bekerja sama dengan Indonesian Halal Lifestyle Centre, pada 3–4 Mei 2025 di Kampus Unbrah Aie Pacah. Festival ini mengusung tema “Unlocking Future Opportunities through Innovation in the Halal and Digital Sectors” dan bertujuan untuk mendorong percepatan pengembangan ekosistem halal dan digital di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat. Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah duta besar dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), pejabat tinggi pemerintahan, pakar internasional, serta pelaku industri halal dari berbagai sektor. Sebagai salah satu undangan, PPHI DPD Sumatera Barat hadir sebagai representasi organisasi yang secara konsisten mendorong kemajuan sektor pariwisata halal di ranah Minang. Kehadiran PPHI DPD Sumbar dalam acara ini merupakan wujud nyata komitmen organisasi dalam memperkuat positioning Sumatera Barat sebagai destinasi utama wisata halal di Indonesia. Sebagai perpanjangan tangan PPHI di tingkat daerah, DPD Sumatera Barat berperan aktif dalam membina pelaku industri wisata, mendorong penerapan standar halal, serta memperluas jejaring kerja sama antar stakeholder di sektor pariwisata. Dengan semangat kolaboratif dan berbasis nilai-nilai syariah, PPHI DPD Sumbar terus berupaya menjadi penggerak utama dalam memperkenalkan dan mengembangkan konsep halal lifestyle di wilayah ini. Kehadiran dalam RMHLF 2025 merupakan bagian dari langkah strategis PPHI DPD Sumatera Barat untuk terus memperkuat eksistensi dalam forum nasional, membangun kemitraan lintas sektor, serta menyampaikan aspirasi pelaku wisata halal daerah dalam skema pengembangan industri halal yang inklusif dan berdaya saing. Melalui partisipasi aktif ini, PPHI DPD Sumatera Barat berharap dapat terus menjadi jembatan sinergi antar pelaku industri, pemerintah, akademisi, dan masyarakat, dalam menciptakan ekosistem halal yang inovatif, berkelanjutan, dan selaras dengan nilai-nilai Islam. Langkah ini merupakan bagian dari kontribusi nyata untuk mendukung visi besar menjadikan Indonesia sebagai pusat industri halal dunia.
Perwakilan PPHI DPP Sumatera Barat bersama Dinas Pariwisata Provinsi menghadiri Capacity Building Pengembangan Pariwisata Ramah Muslim di Yogyakarta

Capacity Building Pengembangan Pariwisata Ramah Muslim Daerah digelar oleh Bank Indonesia bekerja sama dengan Perkumpulan Pariwisata Halal Indoneisa (PPHI) dan Crescent Rating, dalam rangka menindaklanjuti hasil Kajian Indonesia Muslim Travel Index. Gelaran ini diadakan pada Kamis s.d Jumat 6 -7 Desember 2024 di Hotel Hyatt Regency Jogjakarta. Acara ini dihadiri oleh perwakilan dinas pariwisata yang menangani program pariwisata ramah muslim dan satu perwaklian asosiasi industri pariwisata halal dari masing masing daerah. Kali ini Bpk. Mazri Tanjung selaku Sekretaris Eksekutif PPHI DPP Sumatera Barat sekaligus General Manager Hotel Rangkayo Basa Group turut hadir bersama dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat. Berbagai workshop dalam rangka penguatan Pariwisata Ramah Muslim menjadi agenda utama dalam Capacity Building ini, seperti; Strategi penguatan branding dan Promosi Digital Destinasi Pariwisata Ramah Muslim Daerah, Peningkatan Daya Saing Destinasi Wisata Halal Melalui Pedoman PRM dan workshop lainnya. Hari pertama diskusi beberapa bahasan telah dilaksanakan dengan narasumber Bapak Yosan Taufik Akbar dari DEKS BI, Ibu Rizki Handayani dari Kemenpar RI, Ibu Yung dari Kemenpar RI, Ibu Widyasari Setyowulan dari Traveloka dan Bapak Takdir Doa dari DPP PPHI. Selain workshop FGD model dan Aplikasi pengembangan destinasi pariwisata Ramah Muslim juga menjadi agenda acara yang diadakan oleh DEKS Bank Indonesia. Hari kedua diskusi beberapa bahasan telah dilaksanakan dengan narasumber Bapak Anang Sutono, Bapak Wisnu Rahtomo dan Bapak Edi Sumaryadi, ketiganya berasal dari EHTC Poltekpar NHI Bandung. Kegiatan ditutup oleh Ibu Danila Dahlan, selalu Manager DEKS Bank Indonesia. (admin H)
Rangkayo Basa Group Sabet 2 Penghargaan pada Peduli Wisata Award 2024.

Dikutip dari www.hotelrangkayobasa.com “Rangkayo Basa Group Sabet 2 Penghargaan pada Peduli Wisata Award 2024.” Selasa, 01/10/2024. Rangkayo Basa Group berhasil meraih 2 penghargaan Peduli Wisata Award 2024 pada Malam Resepsi HUT Sumatera Barat yang ke 79 di Auditorium Gubernuran, Selasa 01/10/2024. Penghargaan Peduli Wisata Award merupakan apresiasi kepada pengelola usaha dan destinasi wisata yang telah berinovasi dan kreatif serta berkomitmen untuk pengembangan kepariwisataan di Sumatera Barat. Kategori penilaian didasarkan pada aspek – aspek penilaian diantaranya pengisian kuesioner yang berisikan pertanyaan seputar Ekonomi Kreatif, Suistanable Tourism, CHSE, Halal Tourism dll. Selain itu verifikasi dokumen data oleh tim Ahli, serta visitasi/ peninjauan lapangan dan wawancara bagi setiap nominator. Hotel Rangkayo Basa Group yang dipimpin oleh H. Havid Dt. Rangkayo Basa, S.E meraih 2 Penghargaan di kategori berbeda sekaligus, yakni ; Hotel Rangkayo Basa Padang Panjang berhasil meraih JUARA 1 pada kategori Hotel Non Bintang dan Hotel Rangkayo Basa Padang meraih JUARA ke 2 pada Kategori Hotel bintang 1, 2, dan 3 . Hotel berkonsep syariah ini menerapkan berbagai praktek ramah lingkungan, termasuk pengelolaan limbah yang baik, penggunaan produk lokal, dan promosi budaya setempat. Inisiatif ini tidak hanya memberikan manfaat bagi tamu, tetapi juga untuk masyarakat lokal dan lingkungan. Tentunya dnegan adanya penghargaan ini, Rangkayo Basa Group akan terus berfokus dalam meningkatkan kenyamanan dan layanan, dan juga terus berkomitmen untuk mendukung pariwisata yang berkelanjutan terutama Muslim Friendly Tourism. Baca Berita Lainnya :Rapat Kerja Pengurus PPHI Sumatera Barat Memperkuat Semangat Wisata
HOTEL SOFYAN SEBAGAI PIONIR HOTEL SYARIAH DI INDONESIA

Oleh: Widadihandoyo ( Sekretaris Executive PPHI Sumbar ) Hotel Sofyan Cut Meutia-Menteng HOTEL SOFYAN SEBAGAI PIONIR HOTEL SYARIAH DI INDONESIA. | Wisata halal semakin populer di Tanah Air. Ekosistem wisata halal sejatinya sudah terbangun sejak lama, salah satunya lewat berdirinya hotel syariah pertama di Indonesia pada era 1990-an. Jaringan Hotel Sofyan merupakan salah satu pionir hotel syariah pertama di Indonesia. Pada awal berdiri tahun 1971, hotel ini masih konvensional atau beroperasi sama seperti hotel lain. Tapi seiring berjalannya waktu, manajemen memutuskan untuk mulai memberanikan diri bertransformasi menjadi hotel syari’ah.Pendiri jaringan Hotel Sofyan, yaitu bapak Sofyan Ponda, bersama puteranya, yaitu bapak Riyanto Sofyan berhasil mengembangan bisnis perhotelan di era 1980-an. Hotel Sofyan bahkan tercatat sebagai perusahaan hotel pertama yang go-public atau melantai di bursa saham pada 1989. Seiring berkembangnya bisnis, muncul gagasan dari bapak Riyanto Sofyan mengubah haluan bisnis dari hotel Sofyan dari konvensial menjadi hotel syariah. Ide ini tentu menabrak arus mainstream pada masa itu. Namun bapak Riyanto Sofyan melihat celah yang tak disadari pengusaha lain. Selain mencari keberkahan usaha, mengubah konsep ke hotel halal rupanya membuka pasar baru yang potensial. Setahun kemudian, Sofyan Hotel mulai mengadopsi prinsip syariah. Periode transisi berjalan dari tahun 1993 hingga 2003. Sepuluh tahun menyiapkan hotel halal, Sofyan Hotel menerapkan kebijakan dan budaya Islami pada ekosistem hotelnya. Para pekerja juga dilatih menerapkan pelayanan yang ramah cara berpakaian yang menerapkan nilai syariah, salah satunya tidak menyediakan layanan minuman berakohol. Selama periode transisi, beberapa langkah diambil untuk menegaskan Sofyan Hotel sebagai hotel halal. Beberapa klub malam dan diskotik yang semula berada di sejumlah jaringan Sofyan Hotel ditutup pada 1998. Namun, alih-alih sepi dan kehilangan pelanggan, pendapatan persusahaan justru meningkat hingga belasan persen. Demikian pula pada era 2000-an ketika Sofyan Hotel berhenti menjual minuman beralkohol dan menerapkan kebijakan memilah tamu sesuai dengan ketentuan syariah justru berdampak pada meningkatnya pendapatan dan okupansi hotel. Keseriusan Sofyan Hotel untuk menjalankan prinsip syariah mencapai puncaknya pada 2003. Tepatnya pada 26 Juli 2003, Sofyan Hotel menjadi lembaga bisnis syariah pertama di Indonesia yang tersertifikasi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI. Seluruh pelayanan dan produk yang dihadirkan oleh Sofyan Hotel harus merujuk pada Sistem Jaminan Halal. Paradigma bagaimana cara mendapatkan keuntungan yang bersih dan halal harus dapat diterapkan oleh pebisnis, seperti menolak dengan halus untuk tamu-tamu yang akan berbuat tidak sepatutnya, atau hal-hal kecurangan yang berisiko menghasilkan rezeki yang tidak halal. Sebagai pionir dan pelopor pengembangan hotel syariah, bapak Riyanto Sofyan berusaha untuk terus mengenalkan konsep hotel syari’a, hal tersebut di implementasikan melalui pembentukan asosiasi PPHI atau Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia yang dulu nya di kenal dengan AHSIN (Asosiasi Hotel Syariah Indonesia), Dalam perkembangannya hingga sampai saat ini PPHI tidak saja menaungi hotel, tetapi juga industry pariwisata lain yang konsen dengan konsep halal atau syari’ah, hal ini sejalan dengan kebutuhan dan perkembangan pariwisata dunia untuk mengembangkan pariwisata halal. Baca Juga : Havid Rangkayo Basa Tokoh Minang Peduli Syariah